Senin, 10 November 2014
[Migrasi] Bersediakah aku menikah dengan aku???
Bismillahirrohmanirrohim,,
Allahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa sohbihi wa sallim,,
Maukah aku menikah dengan aku?
Pertanyaan ini tiba2 menjadi penting dalam otakku pagi ini,, “Maukah aku menikah dengan aku?“
Pertanyaan ini ku dapat dari sebuah tulisan yang kubaca pagi ini,, Yang semula aku anggap sebagai salah tulis saja,, Tapi ternyata tidak,, Sebuah tulisan biasa, tapi aku yakin penulisnya adalah orang yang luar biasa,,
Selama ini tak pernah terfikir olehku, walau aku sadar aku punya berjuta kekurangan,, dan dalam kondisi yang terseok2, aku selalu berusaha memperbaiki segalanya,, walau akupun tau sering kali tak berhasil bahkan semakin memperburuk keadaan, tapi aku selalu berusaha untuk menjadi baik,,
“I’m a slow walker, but I never walk back”
Tapi pertanyaan ini mengejutkan urat syaraf di otakku pagi ini,, Membuat aku kembali bangkit untuk memperbaiki diriku,,
“Jika aku dihadapkan pada seseorang yang sama seperti aku, dengan sikap, tingkah laku, cara berfikir yang sama persis dengan aku, apakah aku bersedia menikahinya?”
Sebuah pertanyaan, yang sekilas menunjukkan ketidakpercayaan diri seseorang,, Tapi dibalik semuanya,, Justru pertanyaan ini bisa membuat kita melakukan introspeksi besar2an pada diri kita,, Seperti yang dikatakan penulis, pertanyaan ini membuatku merasa dihadapkan pada cermin besar yang aku bisa melihat luar sekaligus dalam diriku (jasmani dan rohani),,
Dan ternyata,, saat aku sendiri dihadapkan pada pertanyaan ini,, ternyata jawabanku adalah “mungkin“ yang cenderung pada keragu2an yang besar,, Tiba2 muncul kekhawatiran yang besar pada diriku, akankah?? Dan akhirnya muncul pertanyaan2 serupa,,
“Maukah aku berkawan dengan aku?“
“Maukah aku mempunyai anak seperti aku?“
“Maukah aku mempunyai kakak seperti aku?“
Lalu, kalau aku saja ragu untuk menikahi “aku“, aku sendiri ragu untuk berteman dengan “aku“ dan aku juga merasa g mau untuk mempunyai kakak dan anak seperti “aku“,, Lalu bagaimaa dengan mereka??
Dan akhirnya, pertanyaan2 yang belum terjawab ini berujung pada pertanyaan: Akankah aku mendapat air minum dari tangan Al-Musthofa nanti? Akankah aku mendapat senyuman dari Rosullah SAW tanda Rosulullah SAW ridho padaku? Dan apa yang bisa kubanggakan dari diriku saat aku menghadap Penciptaku nanti,, mengingat dalam perjalananku ini banyaknya kesalahan2 yang kuperbuat,,
Ampuni aku ya Robb,,
Puji syukur pada ALLAH SWT yang selama ini menutupi aibku di dunia,, Tapi akankah semuanya akan tertutupi di akhirat kelak? Saat namaku dipanggil dihadapan semua manusia,, di depan ayahku, ibuku, adik2ku yang selama ini begitu bangga dan percaya padaku,, di hadapan teman2ku, guru2ku yang mungkin menilaiku sebagai sosok yang baik,, Astaghfirullah,, Ya Robb, tutupilah aibku di mahsyar nanti sebagaimana ENGKAU menutupi aibku selama di dunia ini,, Ampuni aku ya Robb,,
Akhirnya pertanyaan yang mulanya menggelikan,, Yang mulanya hanya terlihat sebagai keinginan dunia,, yang seolah hanya menunjukkan pantaskah kita sebagai wanita dicintai oleh laki2 (dan sebaliknya),, bisa membawaku berfikir bahkan terhentak untuk kembali memperbaiki diriku,, Sedikit demi sedikit, tapi istiqomah,, Karena aku tak mau, saat nanti namaku dipanggil dengan lantang di mahsyar kelak, lalu semua mata tertuju padaku, mata orang2 yang mencintai aku, mata ayah ibuku, mata adik2ku yang dulunya membanggakan aku dan pandangan kakekku Rosulullah SAW dan Sayyidatina Fathimah,, Lalu.... semua aibku dibuka,, dan, astaghfirullah, betapa banyaknya,, Ahhhh.... betapa malunya aku, betapa hancurnya aku, bahkan mungkin kulitku akan terlepas sendiri karena malunya diriku,,
Ya Robb, aku tak sanggup,, Memikirkannya saja aku tak berani,, Aku tak sanggup jika harus berada di kondisi yang menghinakan itu,,
Dan g bisa kubayangkan betapa kecewanya mereka,, Dan aku paling tidak mau membuat orang lain kecewa,, Apalagi Ayah Ibuku,,
Ampuni kami ya Robb,, Biarkanlah semua mata yang memandang kami dengan bangga dan senyum didunia ini, akan memberikan pandangan dan senyuman yang sama di akhirat kelak,, Dan biarkan kami melihat senyum bangga dari Rosulullah, SAW, bukan tangisan beliau karena perbuatan2 kami,,
Buatlah kami selalu mengingat ucapan Rosulullah yang terakhir, saat ditengah sakitnya maut,, “Ummatiy, ummatiy, ummatiy,,“
Ya Robb berilah petunjuk pada diriku yang lemah ini untuk menjadi hamba-MU yang baik,, Dan ridhoi aku dalam setiap langkahku,, dan maafkanlah aku dalam perjalananku menggapai ridho-MU ini,,
Astaghfirullah,, astaghfirullah,, astaghfirullah,,
“ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali ia berusaha merubah dirinya sendiri,,“
“Kau harus mendayung perahumu sendiri,,“
“ALLAH menjanjikan keselamatan pendaratan, bukan ketenangan perjalanan,,“ (Kau harus membuat perjalananmu menuju pendaratan yang selamat,,)
Wallahu a'lam,,
Mohon koreksinya dari semua,,
Catatan diri seorang yang dhoif ditengah2 ketakutan dan kekhawatiran yang teramat sangat,,
N-15 UTM Skudai, Johor,
02062010,,
10:31 AM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar