Kamis, 06 November 2014
[Migrasi] Yaa Rosulullah
Ya Rosulullah…
Kulihat butir-butir pasir itu tersenyum bangga…
Saat kaki muliamu menapaki jalan itu…
Ku lihat…
Mereka begitu bangga…
Ya Rosulullah…
Ku dengar…
Batang kurma itu menangis…
Saat tubuhmu yang mulia tidak lagi menggunakannya…
Ya Rosulullah…
Ku baca dari kisah kelahiranmu…
Awan-awan itu berebut untuk meneduhkan tubuhmu dari matahari…
Walaupun matahari itu tak akan pernah menyengat kulitmu yang mulia..
Ya Rosulullah…
Ku baca lagi…
Bulan enggan menampakkan sinarnya…
Karena sinarmu lebih cantik dari segala sinar…
Ya Rosulullah…
Aku iri…
Mengapa aku tak pernah menjadi butir-butir pasir itu…
Atau menjadi sebatang pohon kurma…
Yang ada kala itu…
Ya Rosulullah…
Aku iri menjadi anak kecil kala itu…
Yang kau usap kepalanya…
Ya Rosulullah…
Aku begitu iri dan cemburu…
Saat aku membaca kisah-kisah sahabatmu…
Yang bisa memandangmu…
Sedang aku disini…
Dalam tumpukan dosa…
Sehingga untuk melihatmu dalam mimpi pun aku tak sanggup…
Ya Rosulullah…
Demi ALLAH…
Jika aku hadir dalam perang Uhud kala itu…
Akulah yang akan menjadi perisai untukmu…
Menerima ribuan anak panah untuk melindungi darahmu…
Ya Rosulullah…
Aku tahu hatiku telah mati…
Tapi aku bersaksi wahai Cahaya Mataku…
Bahwa aku mencintaimu…
Ya Rosulullah…
Aku begitu ingin membuatmu selalu tersenyum…
Tapi nyatanya aku membuatmu menangis…
Maaf kan aku ya Rosul…
Tak ada niat dalam diriku untuk membuatmu menangis…
Tapi dunia ini terlalu keras untukku…
Sedangkan hatiku tak cukup kuat untuk bertahan…
Ya Rosul…
Mohonkan pada Tuhanmu dan Tuhanku…
Untuk menjaga diriku…
Menghidupkan hatiku…
Aku lemah ya Rosul…
Hanya punya keinginan…
Tapi tak bisa mencapainya…
Ya Rosul…
Tuhanmu dan Tuhanku berkata…
“Berdoalah, niscaya AKU akan mengabulkan”
Berdoalah untukku wahai Cahaya Mataku…
Aku hanya ingin membuatmu tersenyum bangga…
Menemaniku saat Izroil datang…
Memanggil namaku saat di Mahsyar kelak…
Memberiku minum dengan tanganmu kala setiap orang merasa kehausan…
Ya Rosul…
Sampai sekarang butir-butir pasir itu masih tersenyum bangga…
Sedang aku masih menunggu dalam tangis di sini…
Kapankah aku bisa berkata pada butir-butir pasir itu?
Bahwa akupun bisa tersenyum bangga sepertinya…
(Coret-coretan yang berisi sebuah harapan, yang kubuat tanggal 12 Robiul Awwal, 10:22 AM, di Johor, Malaysia)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar