Kamis, 06 November 2014
[Migrasi] Love Story... (Sayyidah Aminah)
Sebuah kisah cinta yang menurutku lebih indah dari kisah Romeo & Juliet, lebih indah dari kisah Layla & Majnun. Sebuah kisah teladan dari Ibunda Rosulullah SAW, yang menjadi inspirasi kehidupanku sebagai seorang wanita.
Aminah pada masa itu adalah remaja putri yang ibarat sekuntum bunga yang mulai mekar. Bunga melati yang mekar di kalangan keluarga Bani Zuhrah itu makin hari makin semerbak tercium oleh penduduk Makkah, dan menjadi harapan para pemuda. Ketika masih kanak-kanak, Aminah sudah mengenal putera pamannya, Abdullah bin Abdul Mutholib, di samping anak-anak lainnya dari keluarga Quroisy.
Sebelum remaja dan sebelum dikenakan pingitan keluarga, Aminah telah mengenal baik Abdullah. Hubungan mereka sama eratnya dengan hubungan keluarga mereka. Mereka sering bermain-main di halaman Baitullah.
Menjelang usia remaja Aminah terkena pingitan keluarga, sehingga Aminah tidak lagi mendengar kabar anak pamannya itu. Dan Abdullah pun tumbuh menjadi pemuda yang menjadi buah bibir para gadis pada masa itu, sebagaimana Aminah.
Keluarga Aminah tak heran mengapa keluarga Abdul Mutholib tak mengajukan lamaran untuk anak puteri mereka, Aminah, karena meraka tahu, Abdul Mutholib mempunyai nadzar untuk menyembelih satu anak laki-lakinya jika oleh Allah dikaruniai 10 anak laki-laki.
Aminah, tiap kali mendengar ada seorang laki-laki yang datang ke rumahnya untuk meminang, ia selalu teringat dengan teman karibnya masa kecil, Abdullah bin Abdul Mutholib. Dalam hatinya muncul berbagai tanda tanya: Kenapa bukan dia yang datang melamarku? Bagaimana perasaan Aminah terhadap Abdullah waktu itu hanya Allah yang tahu. Ia sendiri tak tahu apa sebabnya dia selalu teringat dengan Abdullah, teman berlari-lari dan bercanda dekat Ka’bah di kala masih kecil. Kadang-kadang ia tertawa di dalam hati bila teringat akan ulah temannya itu dan ulahnya sendiri di saat sedang bermain-main. Alangkah senangnya bila keakraban itu dapat berulang kembali dalam kehidupannya setelah sama-sama mencapai usia remaja. Makin sering teringat akan Abdullah makin terasa adanya keanehan di dalam hati. Makin banyak kenangan masa lampau yang terbayang di pelupuk mata, makin resah dan makin sedih perasaannya. Kadang ia bertanya-tanya dalam hati: Mengapa ia tak dapat melupakan Abdullah? Dan masih banyak “mengapa” yang lain, yang merisaukan hatinya. Hasrat ingin bertemu atau melihat Abdullah barang sekejap, kadang-kadang menggejolak di dalam dada, tapi apa daya, ia seorang gadis remaja. Di saat sedang risau itulah Aminah mencoba menenangkan hatinya dengan mencoba melihat ke luar melalui celah-celah dinding rumahnya dengan harapan; siapa tahu Abdullah sedang berjalan lewat dekat rumahnya. Akan tetapi celah-celah rumahnya tidak bisa menentramkan dirinya, bahkan menambah kekecewaannya, karena yang dilihatnya hanyalah baying-bayang fatamorgana yang mengalun dan menggelombang ditiup angina sahara.
Demikianlah keadaan Aminah selama berbulan-bulan, ia menanti sesuatu yang ia sendiri tak yakin itu akan datang atau tidak. Dalam keadaan seperti itulah Aminah mendengar kabar dari ayah ibunya bahwa Abdul Mutholib akan memenuhi nadzarnya, yaitu menyembelih seorang dari 10 anak laki-lakinya. Bila Aminah membayangkan bahwa Abdullah yang akan dikorbankan oleh ayahnya, sekujur badannya penuh keringat dingin, setak jantungnya bertambah keras dan denyut nadinya bertambah cepat. Hatinya menjerit membayangkan darah menyembur dari leher Abdullah.
Akhirnya tibalah hari-hari yang mendebarkan jantung Aminah lebih keras lagi, ia mendengar berita bahwa Abdul Mutholib akan mengundi dan menyembelih salah seorang anaknya pada hari itu. Aminah hanya diam di rumah. Ia hanya menanti. Tak mungkin meninggalkan rumah, kendati dirinya ingin menjebol sangkar emas yng telah mengurung dirinya itu. Dengan menekan perasaannya dan menyabarkan diri, ia menunggu berita. Dalam keadaan seperti itu, baginya sedetik terasa bagaikan setahun. Hatinya gundah, pikirannya cemas dan gelisah. Bayangan Abdullah makin dekat di pelupuk matanya, makin banya pula bayangan mengerikan yang muncul tentang diri Abdullah. Selama menunggu berita ia berjalan mondar-mandir di dalam rumah, kadang duduk, kadan berbaring dan kadang berdiri termangu-mangu. Kerongkongannya kering tidak terasa dahaga dan perut kosong tapi tidak terasa lapar, seluruh pikiran dan oerasaannya hanya terpancang pada nasib yang akan terjadi jika undian itu mengeluarkan nama Abdullah.. Ya Alla, selamatkanlah dirinya, dia milikMU, bukan milik Abdul Mutholib. Demikianlah mulutnya terus berkomat-kamit. Pada saat membayangkan hal-hal yang mengerika tentang diri Abdullah, ia menjadi gemetar ketakutan, tetapi pada saat memikirkan mengapa ia menjadi begitu rindu dengan Abdullah, ia menjadi tersipu kepada dirinya sendiri.
Akhirnya undian itu dilaksanakan. Dan pilihan jatuh kepada Abdullah. Seluruh Mekkah menjerit. Mungkinkah Abdul Mutholib akan menyembelih anak kesayangannya itu? Tapi Abdul Mutholib memenuhi janjinya, ia memang akan mengorbankan Abdullah. Kabar itu pun sampai ke telinga Aminah. Mendengar berita itu wajah Aminah menjadi pucat pasi seakan-akan tidak setetes darahpun mengalir pada tubuhnya. Ia masuk ke dalam kamar, lalu merebahkan diri di atas pembaringannya untuk menyembunyikan perasaannya dari ayah ibunya. Tak ada wanita yang wajahnya sesuram Aminah pada hari itu. Tapi apalah daya.
Tapi Allah berkehendak lain, kaum Quroisy melarang Abdul Mutholib untuk mengorbankan anaknya. Akhirnya melalui seorang ahli nujum, Abdul Mutholib memotong 100 ekor unta untuk menggantikan Abdullah.
Ketika Aminah mendengar kabar bahwa Abdullah selamat dari pembunuhan itu, dengan muka cerah ia berjalan menuju ibunya meminta penjelasan itu sehingga Abdullah selamat. Atas permintaan putrinya itu, ibunya menjelaskan secara terperinci apa yang terjadi sehingga Abdullah selamat. Dengan penuh perhatian Aminah mendengarkan kata demi kata yang dituturkan oleh ibunya. Sampai-sampai saat ibunya menghentikan cerita Aminah tetap masih memasang telinga untuk mendengarkan cerit lebih lanjut. Namun ibunya masih terus diam sambil meraba-raba isi hati putrid remajanya itu. Akan tetapi Aminah sendiri dapat menyembunyikan keinginan mengetahui cerita lebih lanjut mengenai peristiwa keselamatan Abdullah.
Pada saat mereka sedang asyik duduk berdua dan saling memandang seolah-olah ingin mengetahui isi hati masing-masing, tiba-tiba datanglah ayah Aminah, membawa berita yang mendebarkan putrinya, kepada Aminah, Wahab berikata: “Pemimpin Bani Hasyim datang melamarmu untuk dinikahkan dengan putranya yang bernama Abdullah.” Pucuk dicinta ulam tiba. Pemberitaan ayahnya itu diterima Aminah dengan denyut jantung dan desiran darah yang menghangati sekujur tubuhnya. Setelah menyampaikan kaba itu, Wahab kembali ke depan menemui tamunya dan meninggalkan Aminah dengan keadaan denyutan jantungnya semakin cepat dan keras sehingga nyaris dapat didengar oleh ibunya. Aminah dapat menyembunyikan isi hatinya, tapi ia tidak dapat menekan degup jantungnya yang bertambah keras, sehingga wajahnya tersipu-sipu kemerahan. Hal itu diketahui jelas oleh ibunya, ia memeluk Aminah dengan kasih sayang dan membiarkan Aminah digoncang perasaannya oleh debaran hati dan denyutan jantung yang tak kunjung reda. Akhirnya Allah memang memberikan Abdullah untuk Aminah.
Kalau bukan karena ingat dengan kisah ini, aku mungkin akan menyampaikan pesan pada dirinya melalui angin, tapi itu tidak kulakukan, karena aku berharap Allah mendatangkan dirinya untuk menjagaku di sini dengan cara yang sama seperti Allah memberikan Abdullah untuk Aminah.
My FB
April 25, 2009 at 4:49pm
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar